Renunganku untuk HUT Bhayangkara ke-69, tanggal 1 Juli 2015
Oleh : AKBP M. Iqbal A., S.H., S.I.K.
“Selamat HUT Bhayangkara ke-69 semoga POLRI tetap di hati dan dicintai masyarakat”
Mengingat kembali pengabdianmu selama 69 tahun, tergerak hatiku untuk mengingat hal hal terbaik, berguna dan bermanfaat yang telah kamu berikan kepada masyarakat, bangsa dan negara.
“Jangan melupakan sejarah” begitu kata orang bijak, mengingatkanku akan kelahiranmu, bagaimana keikutsertaan dan jasa-jasamu dalam menjaga ketertiban masyarakat dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
Satu hal yang selalu aku ingat bahwa ternyata pangkat hoed agent (bintara), Inspektur van politie dan comisaris van politie yang sekarang aku pakai sehari hari di pundak baju PDH (Pakaian Dinas Harian), pada masa itu hanya diperbolehkan digunakan meneer-meneer Belanda, sedangkan golongan pribumi, hanya diperbolehkan menggunakan pangkat mantri polisi, wedana dan wedana polisi.
Saya juga akan selalu ingat bahwa pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), jasamu sebagai penjaga ketertiban masyarakat dan saya akan ingat bahwa pada masa itu mulai dikenal Polisi adalah penyidik tunggal, walaupun dalam pekerjaanmu masih didampingi penjajah Jepang bernama Sidookaan.
Dan tatkala Jepang menyerah pada sekutu, tentara PETA telah dibubarkan, kamu tetap eksis dipertahankan untuk menjaga ketertiban dalam negeri. Setelah Presiden Soekarno mengumandangkan proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, berubah namamu menjadi Polisi istimewa dengan kepala Polisi pertama RS Sukanto yang dilantik pada tanggal 29 September 1945, dan satu ikrar yang cukup terkenal : “Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menyatakan Poelisi Istimewa sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.
Masih dalam ingatanku, keikutsertaanmu dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, kamu menyatakan diri sebagai “combatant” yang tidak tunduk pada konvensi jenewa dan akhirnya mengganti namamu menjadi mobile brigade sebagai satuan khusus bersenjata. Begitu banyak jasamu sebagai combatant seperti keterlibatan dalam pertempuran 10 Nopember, di fron Sumatra, fron Sumbar, penumpasan PKI Madiun dan sebagainya.
Akhirnya pada tanggal 1 Juli 1946 dibentuk jawatan Kepolisian Negara yang pada saat itu dibawah perdana menteri sebagai cikal bakal Kepolisian Negara Repubik Indonesia yang setiap tahunnya diperingati sebagai hari lahirmu.
Saya kembali merenung, memikirkan bagaimana keadaanmu sekarang? Kini tugas utamamu adalah melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat dan menegakkan hukum. Sebagai pelayan masyarakat, terbayangkan bagaimana peranmu seperti pelayan toko; melayani dengan baik, ramah, sopan, humanis, dan profesional, dalam melindungi masyarakat tentunya membuat kesejukan, rasa aman dan iklim sehat dan pengayomanmu tentunya membuat masyarakat menjadi nyaman serta dalam penegakan hukum menempatkan hukum sebagai panglima dan selalu bertindak atas dasar hukum.
Kesemuanya itu apabila dilaksanakan secara ikhlas tentunya akan memberikan dampak yang baik dan merupakan pengabdianmu terbaik dan akan selalu dikenang oleh seluruh masyarakat.
Semangatmu selalu di dadaku, karena kamu adalah pemberi inspirasi dan tidak berorientasi terhadap apa yang diterimanya saja (KKN); kamu juga tidak menjual keprofesionalan dalam kinerjamu hanya demi mendapatkan tambahan income, dan sejenisnya.
Sebaliknya, dadaku akan sesak bernafas apabila kamu sering melakukan hal-hal yang tidak baik, misalnya terkenal sebagai pemeras, pencuri, menyakiti hati masyarakat, salah satu pembela koruptor negara, dan sejenisnya, karena kamu pun akan dikenang dengan label tersebut.
Manakah yang akan kamu pilih? Kamu dikenang dengan jasa-jasa baik ataukah dikenang oleh karena telah melakukan hal-hal yang tidak baik?
Sekarang setelah usia hampir berkepala tujuh, pasang surut peristiwa telah dilalui, hal ini tentunya akan menjadikan dirimu menjadi lebih teruji dalam menjalankan tugas dan peranmu dan tentunya lebih dewasa, lebih profesional dan proporsional sesuai harapan dan keinginan khalayak umum.
Semangat tidak boleh kendor dan turun, peran tidak boleh berhenti serta tidak sensi akan kritikan yang sifatnya membangun, “karena itulah realita,” Katakanlah yang hak walaupun itu pahit, yang terpentinga niat ikhlas untuk kebaikan bersama.
Menjadi bagian darimu (Polisi) adalah kebanggaan dan profesi mulia, dan karyanya pun menjadi mulia ketika dimulai dengan niat mulia. Dalam berkarya harus dihindari perbuatan-perbuatan tercela dan melawan hukum, karya yang benar-benar menjunjung tinggi nillai-nilai luhur dalam rangka memberikan sumbangsih nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Semua hal tersebut mengekspresikan bahwa ulang tahun merupakan hari yang spesial bagi kita, masing-masing untuk merenungkan arti hidup kita, yang semakin hari semakin bertambah tua. Apa yang telah kita perbuat untuk masyarakat, bangsa, dan tanah air kita?
Perahu selalu aman di daratan, tetapi bukan untuk itu ia diciptakan. Terus berkarya…. selamat HUT Bhayangkara ke-69. Semoga Polri tetap Jaya, tetap dicintai dan di hati masyarakat serta….. Tribrata tetap di Dadaku…
Dan alangkah kaget dan bergetarnya hatiku, ketika aku terbangun dari lamunan tidurku, terlihat sebuat kertas dengan logo tribrata tergeletak di atas dadaku…

