Irjen Pol Syahrul Mamma, salahsatu dari enam perwira tinggi yang maju menjadi calon pimpinan KPK di ruang kerjanya, Kantor Kementerian Polhukam, Jakarta, Jumat (26/6/2015). Syahrul Mama saat ini menjadi Deputi Bidang Koordinasi Keamanan Nasional Menkopolhukam.  Wahyu Wening/TribrataNews.com
Irjen Pol Syahrul Mamma, Deputi Bidang Koordinasi Keamanan Nasional Menkopolhukam.
Wahyu Wening/TribrataNews.com

Tribratanews.com – Syahrul Mamma lulus AKABRI tahun 1983. Sebagai salah satu dari 30 lulusan AKABRI dengan nilai terbaik, ia mendapat jatah masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tanpa tes. Inilah kesempatan dimana Syahrul memperdalam ilmu hukum, modal dasar yang membawanya banyak berkecimpung dalam bidang reserse dan kriminal.

Nama Jenderal bintang dua di Kepolisian ini, disebut sebagai salah satu Calon Pimpinan KPK yang direkomendasi oleh Mabes Polri. Namun, PATI SSDM Polri Penugasan Kemenkopolhukam Bid Kordinasi Keamanan Nasional tak banyak mau mendiskusikan tentang pencalonan ini saat ditemui di kantornya, di Kementrian Menko Polhukkam, Jumat (2015-06-2015).

“Semua mungkin akan sepakat, kita tidak bisa membersihkan lantai dengan sapu yang kotor. Begitu juga persoalan hukum, tak akan bisa “dibersihkan” dengan lembaga penegak hukum yang “kotor’,” kata Syahrul Mamma tentang situasi penegakan hukum tindak pidana korupsi.

“Saya ini anak polisi. Jadi setiap hari melihat, saya ini melihat polisi itu gagah sekali. Bisa membantu orang, melakukan kegiatan-kegiatan yang memasyarakat. Karena itu dari kecil, cita-cita saya ya harus jadi polisi. Saya mengikuti orangtua saya,”  kata  pria kelahiran Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, 26 Februari 1958 ini.

Beberapa tahun kemudian, Syahrul Mamma sadar bahwa menjadi polisi adalah menjadi bagian institusi penegak hukum. Karenanya,  sejak awal bdia erkomitmen ingin menjadi polisi yang “bersih”.

Perjalanan menjadi polisi tidak serta merta dilalui dengan mudah. Justru, persoalan pertama muncul dari keluarga. Sang ayah yang polisi, tidak setuju Syahrul Mamma menjad polisi!

Karenanya, setamat sekolah dasar (SD), Syahrul Mamma justru dikirim melanjutkan sekolah ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sang ayah berharap, dengan masuk pesantren, anaknya dapat memperdalam ilmu agama.

Namun jalan hidup berkata lain. Enam tahun yang harus dilalui di pesantren, Syahrul Mamma hanya mampu bertahan kurang dari empat tahun.  Hanya sampai kelas 4 di Gontor, Syahrul Mamma lantas pulang kampungnya di Makassar dan melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas.

Tamat SMA, pria sederhana ini masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) jurusan Kepolisian (sekarang Akademi Kepolisian/Akpol). Dan, sejak saat itulah ia  melanjutkan cita-cita masa kecilnya.

***

Singkat cerita, setelah melalui beberapa jabatan penting di bidang reserse, di antaranya sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jakarta Raya pada 2005 dan Kepala Unit II Direktorat V/Tipiter Bareskrim Polri pada 2006, saat ini Syahrul Mamma menjabat sebagai Perwira Tinggi Staf Sumber Daya Manusia (Pati SSDM) Polri yang ditugaskan di Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Bidang Koordinasi Keamanan Nasional.

Sebagai perwira tinggi dan dekat dengan petinggi-petinggi di kepolisian, tentu banyak godaan yang dihadapi ayah tiga anak ini. Syahrul Mamma mengakui banyak pihak yang memintainya bantuan, semisal memuluskan anggota keluarganya menjadi polisi.

Ini tantangan. Terutama yang datang dari keluarga dan teman dekatnya sendiri. “Jadi kalau di kampung itu, khususnya kalau kita genius di kampung sendiri, yang paling pertama bangga itu adalah keluarga dan teman. Tapi yang paling pertama membenci kita juga keluarga dan teman, ketika mereka kita ndak bisa bantu,” katanya sambil tertawa.

Untunglah Syahrul Mamma punya formula sendiri untuk menangkal permintaan bantuan yang berpotensi menyalahi wewenangnya. Ia tegaskan, dirinya siap membantu siapa saja selama itu tidak melanggar aturan yang ada.

Ia sendiri telah membuktikan ketaatannya pada aturan main itu. Pada 2014 lalu, anak sulungnya gagal masuk Akpol. Syahrul Mamma bertekad tidak akan memanfaatkan posisinya ketika tahun ini, anaknya itu akan coba mendaftar kembali.

“Saya harus siapkan fisiknya, siapkan inteleknya, siapkan mentalnya. Ya, semua kita siapkan. Karena kita sudah punya pengalaman tahun lalu tidak lolos. Jadi jangan berpikir saya bintang dua terus sudah pasti lolos, ndak,” katanya, tegas/

“Kehidupan saya banyak di reserse, di reskrim, sehingga saya tahu, sejauh mana saya harus minta bantu orang dan sejauh mana saya tidak boleh bantu,” imbuhnya.

[Iman Firmansyah]