kdl 1

Tribratanewsjateng.com – Menjadi manajer di wilayah sebagai Kapolres, pasti dihadapkan problematika mengelola organisasi yang dipimpin. Selain itu juga tantangan memenej potensi Kamtibmas, baik potensi pendukung maupun konflik. Seperti halnya yang dihadapi Kapolres Kendal, Ajun Komisaris Besar Polisi Widi Atmoko, SIK, yang pada bulan Oktober 2015 ini genap enam bulan memimpin Polres Kendal.

Tantangan tugas ke dalam maupun ke luar, menurutnya, bukanlah ringan. Alumnus Akpol 1995 ini beranggapan, mustahil dapat mengatasi sendirian.

“Action skala prioritasnya waktu itu memang ke dalam dulu.Tapi prakteknya kedua-duanya harus saya lakukan, baik pembinaan ke dalam maupun ke luar,””ujar lulusan Sespim Polri Tahun 2009 ini.

Tapi, bagi mantan Kadentar Tingkat I Korbintarsis Dit Bintarlat Akpol ini, segala sesuatu termasuk penugasan menjadi Kapolres Kendal pasti sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Ia mensyukurinya, sebagai muslim tak sekedar dengan lisan mengucap Alhamdulillah, tapi ingin mewujudkan dalam bentuk perbuatan. Jauh hari ia juga sudah meniatkan jika suatu saat menjadi Kapolres, akan memberikan kinerja terbaik bagi organisasi dan masyarakat.
Mantan Wakapolres Rembang, Wakapolres Brebes dan terakhir sebagai Kapolres Batang ini ingat saat pendidikan ada metode OHA (Oganization Health Audit), untuk meneliti/ mengetahui kesehatan organisasi atau kekuatan dan kelemahan suatu organisasi, serta out putnya seperti apa. Mengenali organisasi berarti meliputi faktor 4M yaitu man (orang), money (anggaran), metode (cara pembinaan) and material (sarana-prasarana). Di sisi lain, supaya dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, juga harus tahu karakteristik wilayah kerja.

 

kdl 2

Pembenahan organisasi dilakukannya dengan konsep petunjuk kitab suci “rumahku adalah surgaku” (baiti jannati). Jika rumah adalah surga bagi penghuninya, katanya, berarti ada rasa tentram, nyaman, penuh kasih sayang antara suami istri dan anak-anak. Inilah pondasi yang kuat supaya mencari nafkah untuk keluarga juga bersemangat. “Jika rumah tangga kuat, akan memancarkan cahaya keluar yang baik, dalam rangka implementasi pelaksanaan tugas, takkan ada pikiran lain kecuali fokus tugas,” kata pria kelahiran Gombong, 17 September 1973.

Dari situ akhirnya tercetus konsep “Polresku Surgaku”, sehingga anggota merasa betah. Faktor dominan yang ia lakukan adalah melihat faktor 4M tadi. “Saya lihat man (anggota), baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, pemahaman tentang kerja, apakah sudah terbangun dengan baik, apakah harus menungu perintah, petunjuk, aba-aba, peringatan, atau kode. Kemudian dari money (anggaran), terdukung atau tidak? Metode pembinaannya bagaimana, yaitu system yang dapat memberikan jaminan bahwa dalam menjalankan tugas ada rambu-rambu, penghargaan maupun hukumannya (reward and punishment). Demikian pula sarana-prasarananya, harus dipedulikan.

Untuk mewujudkan konsep “Polresku Surgaku”, ia membalik implementasi manajemennya, yaitu dimulai dengan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Anggota Polres Kendal yang dulunya tidak peduli dengan kondisi lingkungan Polres Kendal kini sudah tumbuh kepeduliannya sehingga kini Polres nampak lebih rapi, bersih, nyaman. Parkir diatur rapi. Halaman belakang, semua kamar mandi dan WC dibersihkan. Supaya petugas jaga tidak kedinginan, merasa hangat dan betah piket, ruang penjagaan ditutup kaca. Kendaraan-kendaraan patroli dirawat, diopeneni.
“Kita berfikirnya, bagaimana ketika mata melihat Mapolres, sudah senang dengan kantor kita,” ujar perwira yang mengawali karirnya sebagai Pamapta di Polda Bengkulu ini.

Manusia (anggota), katanya, adalah faktor untuk mewujudkan organisasi yang baik. Sebagus apapun sarana-prasarana, jika anggota tak punya kemauan berbuat terbaik, takkan bisa maju. Mula-mula anggota ditunjukkan gambaran Polres Kendal menurut penilaian orang luar, yang masuk dari SMS, pengaduan, telepon, komplain, maupun laporan langsung. Masalahnya kurang baik pelayanan, kehadiran polisi, cara menyampikan, dan operasional. Lantas Kapolres tanya, Polres mau dibawa ke mana? “Di sinilah perlu komitmen. Maka salah satu cara meningkatkan kualitas adalah dengan memintarkan (intelektualitas) anggota,” kata mantan Kapolsekta Muara Bengkahulu Polresta Bengkulu (1997).

Memintarkan anggota, lanjutnya, dilakukan dengan cara membina, melatih, dan merubah kultural (restorasi emosional, spiritual, dan akhlak) anggota. Pembinaan dilakukan oleh Kapolres, Waka Polres tiap apel dan para perwira Pawas yang menyampaikan aturan-aturan sesuai bidang fungsinya. “Komplain pelayanan kita atasi dengan melatih anggota SPK tentang cara melayani dan komunikasi yang baik. Kemudian ditunjang pelatihan semua fungsi. Kita adakan pula cerdas cermat untuk anggota, supaya mereka tergugah belajar dan memahami cara menjalankan tugas dengan benar,” terang mantan Kasat Serse Polres Rejang Lebong (1999).

Pelayanan yang baik, menurut Kapolres, akan berkonstribusi terhadap nama baik identitas Polri, sehingga image dan reputasi Polri juga baik. “Polisi yang menyebabkan nama jelek Polri, harus diperbaiki. Kalau tidak bisa diperbaiki, ya diganti. Setelah diganti suara jelek tidak ada lagi, berarti image-nya sudah baik. Kalau image-nya baik, berarti idetitasnya juga baik,” tandasnya.

Setelah itu, tambah Kaplres, masyarakat akan melihat reputasi. Reputasi akan tercipta jika polisi dalam berbuat baik tidak ethok-ethok (berpura-pura baik), lips service atau hangat-hangat tahi ayam (tidak serius), tapi harus tulus dan sungguh-sungguh. “Reputasi akan baik jika kita konsisten, yaitu berbuat baik untuk selamanya,” tegasnya.

kdl 3

Upaya merubah kultural dilakukan dengan merestorasi emosional, spiritual, dan akhlak. Alasannya, meskipun anggota pintar tapi mental spiritualnya lemah, bisa sewenang-wenang, sombong, memeras rakyat, dan arogan. Restorasi emosional dan spiritual dilakukan dengan merubah kebiasaan kurang baik anggota dan dialihkan menjadi amal ibadah. Contoh, anggota yang merokok seminggu menghabiskan Rp. 100 ribu, diajak menyisihkan sebagian untuk infaq sodaqah. Kapolres lalu menyiapkan metodenya dengan terobosan kreatif berupa “Senin Berinfak – Jumat Beramal”. Ilmunya adalah mengajak anggota menyisihkan sebagian rejeki untuk berinfaq.

“Dengan cara olah rasa ini, anggota menjadi tergerak hatinya. Tumbuh empati dan lebih peka terhadap permasalahan yang dialami warga. Semua perilaku arogan, sombong, sewenang-wenang pada dasarnya berasal dari hati yang kotor,” tandas mantan Kasat Serse Polresta Bengkulu (2000) ini.

Sholat berjamaah, menjadwal anggota menjadi penceramah Binrohtal setiap pemeluk agama juga dilakukan supaya anggota belajar bicara dan bertanggungjawab berbuat kebajikan. Sedangkan reward and punishment diterapkan secara insidentil. Dari beberapa upaya itu, Kapolres menilai memang hasilnya belum sesuai harapan. Tapi yang penting baginya, minimal sudah berusaha menata.
Menyangkut tantangan keluar, Kapolres menyadari, apalah arti kalau dirinya hanya berbuat sendirian. Sebuah keberhasilan, menurutnya, hakekatnya sokongan dari banyak pihak. Kalau Kapolresnya sukses, anggotanya berarti sukses. Sebaliknya jika Kapolres gagal, semua menjadi penyebab kegagalan.

“Supaya kompak dan kuat, perlu kebersamaan. Kekuatan kelompok itu terletak pada anggota yang lemah. Kita harus berkomitmen, kerja sama, wa tawaa shau bil haq (saling mengingatkan dalam kebaikan),” ujar Kasat Reskrim Polres Grobogan (2004)

Untuk bisa bekerja sama, menurut Kapolres, harus saling kenal. Untuk bisa kenal, Kapolres turun ke bawah. “Sekarang jamannya polisi mendatangi. Kita datangi, Forkopimda, struktural Pemda dan tokoh masyarakat. Kita mau datang akan ada kesan dari yang kita datangi. Kentalnya perkenalan akan mempermudah langkah berkoordinasi kemudian hari,” jelas mantan Kasubag Reskrim Bag Ops Polwil Kedu (2004).

Produk koordinasi itu antara lain dibuat MoU dengan instansi pemerintah untuk menciptakan Kamtibmas. Termasuk dalam menghadapi tantangan Lebaran Idul Fitri 2015 yang berlangsung sukses dan pengamanan Pemilihan Kepala daerah yang akan datang.

“Setelah ikhtiar kerja sama, doa kepada Allah SWT adalah yang utama. Makanya, sebelum pengamanan Pemilukada, kita akan istighasah berdoa, setelah kegiatan juga berdoa. Jadi kita awali dengan doa, akhiri dengan doa sebagai wujud rasa syukur,” tutur mantan Kapolsekta Semarang Tengah (2005).

Terobosan inovatif ini, menurut Kapolres, merupakan bagian dari penjabaran program induk grand strategy Polri. Di tingkat ke wilayahan dibuat program-program yang bisa diimplementasikan sesuai karakteristik wilayah. Gerakan “Senin Berinfaq-Jumat Beramal ” merupakan upaya membangun kemitraan (partnership) dengan cara tetap menjaga kepercayaan masyarakat (trust building) yang sudah ada.

Hasil infaq pada hari Senin kemudian diamalkan pada hari Jumat melalui kunjungan ke masjid-masjid di seluruh Kabupaten Kendal. Satu Kkecamatan satu Desa satu masjid secara bergantian. Gerakan ini kemudian disebut “Jumat Beramal”. Kini setengah tahun selama kepemimpinannya, melalui gerakan “Jumat Beramal” ini sudah ratusan masjid berhasil dikunjungi.

Dalam prediksi Kapolres, gerakan ini memang tak hanya bersifat simbolis, tapi akan mendinamisasi kinerja seluruh anggota. Faktanya, ketika Kapolres akan berkunjung ke suatu masjid, Kapolsek yang mendapat giliran tempat Jumat Beramal mau tak mau akan bertemu dengan banyak pihak, mulai dari Ketua RT, Ketua RW, Lurah, Camat, Danramil, kiai, ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat, guna persiapan kegiatan. Dari siniah terbangun interaksi, silaturahmi atau kunjungan intensif.

Dari evaluasi Kapolres, dari kegiatan Jumat Beramal juga diperoleh banyak nilai yang luar biasa. Mulai dari nilai religiusitas, moralitas, kedekatan dengan masyarakat, nilai operasional terkait sosialisasi program kepolisian hingga secara tidak disengaja pasti menumbuhkan citra positif bagi Polri.

Apalagi, kata suami Dian Ayu Mandarsari ini, pada Jumat Beramal itu, petugas bilal maupun khotibnya besaral dari bintara dan perwira Polres yang dipilih bergiliran. Usai sholat Jumat, Kapolres lalu menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas dan deskripsi tugas-tugas kepolisian kepada masyarakat sesuai trending topic yang terjadi.

 

kdl 4

Kapolres juga menjelaskan kepada masyarakat bahwa banyak Polisi baik. “Kalau ada yang jelek, bukan polisinya, tapi orang atau yang jadi polisi. Jangan ngajari anak buah saya melanggar. Polisi akan menilang, tapi bapak malah mau ngasih uang. Polisi mau menyidik, bapak menawari duit. Kalau memang polisi minta uang, catat namanya dan laporkan. Kalau polisi tidak minta, jangan diimingi-imingi, karena Polisi juga manusia biasa yang bisa tak tahan godaan setan,” terang Kapolres di hadapan jamaah shalat Jumat.

Selain disalurkan melalui gerakan Jumat Beramal, hasil Senin Berinfaq dapat membantu anggota yang mengalami musibah. Kemudian juga untuk kegiatan bhakti sosial, ketika ada warga yang rumahnya roboh terkena bencana, Polisi datang membantu sembako untuk meringankan beban warga.

“Siapapun Kapolresnya, saya berharap kegiatan ini dapat diteruskan. Karena memang baik.Masyarakat banyak yang mendukung. Semua bisa melakukan dan sudah tertata.Tidak ada Kapolres, ada Waka Polres, Kabag, Kasat dan Kapolsek,” harap ayah dari Tubagus Anom Atmoko Putro, Bagas Arya Yudha Atmoko Putro dan Saras Ayu Ramadhani Atmoko Putri ini.

Kapolres juga prihatin terhadap parahnya degradasi moral yang dialami pemuda dan pelajar. Masih SMP sudah ada yang terlibat seks bebas, narkoba, pil koplo dan sebagainya. Di Kendal, katanya, angka kejadian memang masih kecil. Tapi kalau dilihat faktanya sudah mengkhawarirkan.

Karena itulah, Kapolres mengadakan pelatihan NAC untuk membangun karater anak Bangsa di bidang motoric, afektif, dan psikomotor supaya handal. Dinas dan guru senang, mengapresiasi, kemudian lahirlah kerja sama MoU antara Polres dengan Dinas Pendidikan dalam rangka pembinaan pelajar.
Dari rangkaian gerakan berkunjung ke masjid melalui gerakan “Jumat Beramal” ini, akhirnya mengukuhkan reputasi Kapolres sebagai “ustadz”. Sebutan itu, menurut Kasat Binmas Polres Kendal, AKP Anita Kurdi, SH, muncul dari masyarakat karena selain menyampaikan pesan Kamtibmas di masjid-masjid, Kapolres juga sering diminta berbagai kalangan untuk ceramah agama/ pengajian.

[Brigadir Bagus Prakoso – Humas Polres Kendal]