Pada masanya, Prabu Siliwangi, Patih Gadjah Mada, Ki Hajar Dewantara, menjadi pemimpin yang menyejahterakan. Rakyat mencintai. Sejarah mengenang dan mencatatnya hingga kini. Apa rahasia kesaktiannya?
Seorang Jenderal Polisi bintang dua menelusuri, mengungkap dan menarik lagi rangkaian sejarah itu dalam sebuah buku setebal 412 halaman.
Ya, selain menjabat sebagai Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Charliyan adalah penulis buku berjudul ‘Master Leadership’.
Ini adalah buku jilid pertama yang diterbitkan Solusi Publishing. Menurut Anton, buku ini mengungkap kearifan lokal, tentang leadership. Indonesia, katanya, memiliki sejarah panjang berkaitan sosok dan tokoh legendaris yang sukses menjalani prinsip dan nilai leadership. Anton mengungkap tentang Prabu Siliwangi, Patih Gadjah Mada dan Ki Hadjar Dewantoro.
“Terbukti ajaran mereka mampu menyejahterakan rakyat di masanya. Bahkan ajaran kepemimpinannya masih sangat aktual untuk diterapkan di abad modern ini,” kata Anton.
Anton Charliyan, yang pernah menjadi Kapolres Priangan ini yakin, daerah-daerah Nusantara memiliki benih dan mutiara kearifan lokal. Keberadaan mereka, sambung Anton, perlu digali serta diangkat ke hadapan publik sehingga menjadi inspirasi dan motivasi dalam konsep kepemimpinan.
Prinsip-prinsip leadership para tokoh Nusantara, justru lebih cocok dipraktikkan atau diterapkan di negeri sendiri. “Sehingga nanti kita punya konsep kepemimpinan utuh dari nusantara yang menjadi kiblat kepemimpinan dunia. Kita tidak perlu selalu berkiblat ke pemikir Barat soal kepemimpinan,” ujar lelaki kelahiran di Tasikmalaya, Jawa Barat, 29 November 1960 ini.
Menulis adalah kesukaan Anton sejak SMA. Dia sempat pula mengelola majalah dinding di sekolahnya. Semenjak menapaki karier sebagai polisi, dia melahirkan sejumlah buku yang antara lain berjudul ‘Setetes Embun’ dan ‘Kearifan Lokal Kampung Naga’.
Karenanya, ketika dipercaya menjabat sebagai Kadiv Humas, Anton mendorong agar polisi di Indonesia menyempatkan diri menyampaikan pesan dan menelurkan ide melalui karya tulis. “Minimal kalau sudah bisa menulis, terus pensiun, saya kan bisa melamar jadi wartawan,” katanya sambil tertawa.
Nah, pada hari Senin (15/6/2015), pukul 19.00 sampai 21.00, buku karya Anton Charliyan ini akan dibedah. Dalam bedah buku tersebut, yang akan hadir sebagai pengulas, antara lain, anggota DPR RI, Akbar Faisal, DR Dewi Motik, Anindya Putri dan Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Usman Kansong.[red]

