anak pemanjat kelapa

MANADO, Humas Polda Sulut – Pasangan suami-istri Soli Schalwyk dan Olha Saday, warga Pakuure, Tenga Minahasa Selatan ini tak bisa menutup kegembiraannya usai menyaksikan anaknya Hizkia Schalwyk dilantik oleh Kapolda Sulut Irjen Pol Drs. Bambang Waskito menjadi Polisi berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) bersama 268 orang lainnya di SPN Karombasan Manado, (7/3/2017).

Dituturkan sang Ibu usai pelantikan siswa, saat pengumuman tanggal 5 Agustus tahun 2016 silam, dirinya sempat tidak percaya waktu anaknya menelpon dan katakan kalau dirinya lulus mengikuti pendidikan di SPN Karombasan.

“Dan saat ini kami orang tua bisa menyaksikan langsung, Hizkia bisa dilantik Pak Kapolda menjadi Polisi,” ucap sang Ibu dengan terharu.

Nada pesimistis sempat terlintas dibenak orang tua Hizkia saat itu, tatkala mendengar anaknya ingin ikut pendaftaran polisi.

“Suami saya hanya seorang pemanjat kelapa, pekerjaan itupun gajinya tidak menetap hanya tergantung pesanan orang saja,” aku dirinya.

Setiap bulannya sang suami hanya mendapatkan gaji berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 1 Juta namun itu kalau ada di musim panen.

“Saya sempat tanya ke Hizkia kalau serius ingin jadi polisi? Dia bilang serius sekali, berkat perkataan itulah saya kemudian percaya untuk melanjutkan proses seleksi dirinya,” jelas ibu yang saat ini sudah berusia 49 tahun itu.

Ketika Hizkia mengikuti tes Polri, sang ayah kemudian memutuskan untuk mengambil pekerjaan apapun guna membantu perjuangan sang anak.

“Saya kesana kemari mencari pekerjaan, mulai dari panjat kelapa hingga memotong rumput kebun orang, asalkan anak saya bisa jadi polisi dulu,” ucap sang ayah.

Ia juga menambahkan bahwa setiap malamnya bersama sang istri selalu berdoa kepada Tuhan untuk memudahkan setiap perjuangan sang anak.

Hizkia sendiri mengaku sempat menginap selama tiga bulan di rumah sahabatnya karena tidak memiliki biaya yang cukup.

“Waktu datang kesini (Manado) tidak ada sanak saudara sama sekali, uang juga hanya pas-pasan tidak cukup untuk menyewa tempat kost. Jadi saya bilang ke salah satu teman yang juga sedang ikut tes, kalau boleh menginap di rumahnya,” urai Hizkia.

Dia pun tinggal selama tiga bulan di rumah Ibu Renny Rumajisbala di Winangun

“Saya tidak bisa berkata apa-apa ketika tadi ibu peluk saya, tapi yang pasti semua jerih payah mereka, akan saya balas dengan kerja keras pula,” katanya.

Terkait hal tersebut, Kapolda Sulut dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan jika rekrutmen anggota Polri harus dilakukan dengan prinsip-prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel dan Humanis (Betah).

“Siapapun berhak menjadi anggota Polri, meskipun dia hanya seorang anak petani, dan masuk Polri tidak dipungut biaya,” pungkas Kapolda Sulut.

Sebagaimana dijelaskan Kepala SPN Karombasan Manado Kombes Pol Dra. Henny Posumah, mayoritas pekerjaan dari orang tua siswa adalah petani, nelayan dan pedagang, yaitu sebanyak 104 orang, disusul anak anggota Polri 32 orang, pensiunan Polri/TNI 10 orang, swasta 34 orang, wira usaha 60 orang dan PNS 38 orang.